Satu-satunya Kucing dalam Sejarah Militer Britania Raya yang Dianugerahi Medali Kehormatan Tertinggi Tertinggi di Medan Perang
Sejarah militer dunia tidak hanya mencatat deretan nama jenderal besar atau strategi perang yang rumit. Di balik gemuruh meriam dan taktik geopolitik, terselip kisah-kisah heroisme tak terduga yang datang dari mahluk-mahluk tak bersuara. Salah satu epik paling mengharukan dan mengagumkan dalam sejarah Angkatan Laut Kerajaan Inggris (Royal Navy) adalah kisah tentang kucing Simon, seekor kucing pelacak yang bertugas di atas kapal fregat HMS Amethyst.
Bukan sekadar maskot penghibur lara, Simon tercatat secara resmi dalam dokumen militer sebagai satu-satunya kucing dalam sejarah yang dianugerahi Dickin Medal—penghargaan tertinggi setara Victoria Cross bagi hewan yang menunjukkan keberanian luar biasa di medan pertempuran. Perjalanan hidupnya, dari seekor kucing jalanan yang kurus hingga menjadi pahlawan nasional Britania Raya, adalah bukti nyata tentang loyalitas, ketangguhan, dan dedikasi tanpa batas.
Awal Mula Sang Pelaut Berbulu: Dari Pelabuhan Hong Kong ke HMS Amethyst

Kisah legendaris ini bermula pada tahun 1948 di galangan kapal Stonecutters Island, Hong Kong. Saat itu, seorang pelaut muda berusia 17 tahun bernama George Hickinbottom menemukan seekor kucing lokal bermotif hitam-putih (tuxedo cat) yang sedang kelaparan dan telantar di sekitar pelabuhan. Hickinbottom, yang merasa iba, memutuskan untuk menyelundupkan kucing kecil tersebut ke dalam kapal perang tempatnya bertugas, HMS Amethyst.
Pada awalnya, keberadaan Simon dirahasiakan dari para perwira tinggi. Namun, kucing ini memiliki kepribadian yang sangat ramah, cerdas, dan cepat beradaptasi dengan lingkungan kapal yang bising. Simon dengan cepat memenangkan hati seluruh kru, termasuk sang komandan kapal kala itu, Letnan Komandan Ian Griffiths.
Griffiths melihat potensi besar pada Simon. Kapal-kapal militer pada era tersebut selalu menghadapi masalah klasik yang sangat serius: serangan hama tikus. Tikus-tikus pelabuhan tidak hanya merusak kabel-kabel penting dan persediaan makanan kru, tetapi juga membawa risiko penyakit menular yang mematikan. Simon terbukti sebagai pemburu yang sangat ulung. Dengan gerakan yang senyap dan insting yang tajam, ia berhasil membersihkan dek kapal dari koloni tikus dalam waktu singkat. Sebagai penghargaan atas jasanya, Simon secara tidak resmi dianugerahi gelar Able Seacat (Pelaut Ulung) dan resmi menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga besar HMS Amethyst.
Tragedi di Sungai Yangtze: Ketika Amethyst Terjebak dalam Perang Saudara Tiongkok
Pada April 1949, HMS Amethyst menerima misi penting untuk berlayar menyusuri Sungai Yangtze dari Shanghai menuju Nanjing. Tugas mereka adalah menggantikan kapal HMS Consort yang bertugas menjaga Kedutaan Besar Inggris di tengah situasi Perang Saudara Tiongkok yang kian memanas antara Pasukan Nasionalis (Kuomintang) dan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang berhaluan Komunis.
Nahas, pada tanggal 20 April 1949, saat kapal sedang melaju di perairan sungai, artileri pantai milik Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) tiba-tiba melepaskan tembakan meriam secara bertubi-tubi ke arah HMS Amethyst. Serangan mendadak ini menghancurkan jembatan komando, menewaskan Komandan baru kapal, Letnan Komandan Bernard Skinner, serta melukai puluhan pelaut lainnya. Kapal perang tersebut mengalami kerusakan parah dan akhirnya kandas di lumpur sungai, terjebak di bawah todongan meriam musuh. Peristiwa berdarah inilah yang kelak dikenal dunia sebagai Insiden Sungai Yangtze (Yangtze Incident).
Keajaiban di Ruang Medis: Bertahan Hidup dari Luka Tembak

Di tengah kekacauan ledakan dan pecahan peluru yang beterbangan, Simon berada di dek bawah dekat area kabin kapten. Ketika ledakan meriam menghantam bagian tengah kapal, serpihan logam panas (shrapnel) menembus tubuh kecil Simon di beberapa titik. Ia menderita luka bakar parah di punggung, wajahnya tercabik, dan kaki belakangnya terluka berat hingga tak mampu berdiri.
Ketika tim medis kapal sibuk merawat puluhan pelaut yang sekarat, mereka menemukan Simon yang terkulai lemas di sudut ruangan dalam kondisi kritis. Dokter kapal, meskipun kewalahan, menolak untuk menyerah pada Simon. Mereka membersihkan luka-lukanya, mengeluarkan serpihan logam dari tubuhnya, dan membalutnya dengan penuh kehati-hatian. Peluang Simon untuk selamat saat itu diperkirakan sangat tipis.
Namun, semangat hidup Simon sungguh luar biasa. Setelah melewati masa-masa kritis selama beberapa hari di ruang medis yang pengap dan panas di bawah tekanan cuaca musim panas Tiongkok, Simon mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Ia mulai merangkak, mengeluarkan suara mengeong tipis, dan perlahan-lahan kembali berjalan menyusuri dek kapal, meskipun tubuhnya masih dipenuhi perban.
Perang Melawan “Mao Tse-tung”: Mengembalikan Moral Kru yang Runtuh
Kondisi di atas HMS Amethyst selama pengepungan sangatlah mengerikan. Kapal tersebut terjebak di Sungai Yangtze selama 101 hari di bawah cuaca panas yang menyengat, dengan pasokan makanan yang kian menipis dan ancaman serangan konstan. Moral para pelaut berada di titik terendah; mereka kehilangan komandan, terisolasi dari dunia luar, dan didera rasa frustrasi yang mendalam.
Di saat kritis inilah peran Simon melampaui tugas seekor hewan biasa. Kehadiran Simon yang berjalan tertatih-tatih di antara barisan pelaut yang terluka memberikan suntikan semangat yang luar biasa. Ia akan melompat ke tempat tidur para pelaut yang sedang depresi, mendengkur keras (purring), dan membiarkan mereka mengelusnya. Bagi para kru, Simon adalah simbol hidup dari ketahanan: jika seekor kucing kecil bisa selamat dari ledakan meriam, maka mereka pun pasti bisa bertahan hidup.
Tantangan baru muncul ketika kapal yang diam itu mulai diserbu oleh koloni tikus raksasa yang kelaparan. Salah satu tikus terbesar dan paling agresif di atas kapal bahkan dijuluki oleh para kru dengan nama “Mao Tse-tung”. Tikus-tikus ini mulai menggrogoti sisa ransum makanan para pelaut yang sudah sangat terbatas.
Meskipun tubuhnya belum pulih total dan masih merasakan sakit yang luar biasa akibat luka tembak, insting kewajiban Simon bangkit. Ia kembali memburu tikus-tikus tersebut satu demi satu. Puncaknya adalah ketika Simon berhasil menyudutkan dan membunuh tikus raksasa “Mao Tse-tung” dalam sebuah duel sengit di ruang penyimpanan barang. Keberhasilan Simon menjaga pasokan makanan tetap aman dari kontaminasi penyakit menjadi faktor krusial yang menyelamatkan nyawa seluruh kru kapal selama sisa masa pengepungan.
Pelarian Berani dan Pahlawan yang Disambut Dunia
Pada malam hari tanggal 30 Juli 1949, di bawah komando Letnan Komandan John Kerans yang baru, HMS Amethyst melakukan aksi pelarian yang sangat berani dan nekat. Di bawah kegelapan malam tanpa lampu, kapal memacu mesinnya hingga kecepatan maksimal, menerobos barikade rantai sungai dan hujan tembakan artileri PLA sejauh 140 mil menuju laut lepas.
Aksi pelarian ini berhasil. Ketika HMS Amethyst akhirnya bersandar di pelabuhan aman di Hong Kong, kisah keberanian kru kapal dan khususnya kisah heroisme Able Seacat Simon telah menyebar ke seluruh penjuru dunia melalui telegram dan pemberitaan media massa. Simon seketika menjadi selebritas global. Setiap surat kabar dari London hingga New York memajang foto Simon yang gagah mengenakan kalung kepangkatan militer di dek kapal.
Penghargaan Tertinggi dan Akhir Hayat yang Mengharukan

Sekembalinya ke Britania Raya, Simon disambut sebagai pahlawan nasional. Berbagai surat, hadiah makanan kucing, dan mainan dikirimkan oleh masyarakat dari seluruh dunia ke alamat HMS Amethyst, hingga pihak Angkatan Laut harus menunjuk seorang perwira khusus hanya untuk membalas surat-surat penggemar Simon.
Pada Agustus 1949, lembaga amal hewan terkemuka di Inggris, PDSA (People’s Dispensary for Sick Animals), secara resmi menganugerahkan Dickin Medal kepada Simon. Piagam penghargaan tersebut berbunyi:
“Dianugerahkan kepada Able Seacat Simon atas keberanian dan dedikasi luar biasa yang ditunjukkannya selama Insiden Sungai Yangtze, dalam mempertahankan moral kru dan menyelamatkan pasokan makanan kapal dari serangan hama di bawah kondisi pertempuran yang ekstrem.”
Sesuai dengan regulasi karantina hewan yang sangat ketat di Inggris kala itu, sesampainya di tanah Inggris, Simon harus menjalani masa karantina sementara di sebuah fasilitas di Surrey sebelum diizinkan tinggal menetap bersama masyarakat. Sayangnya, takdir berkata lain. Di tempat karantina tersebut, Simon terserang infeksi virus kucing yang parah. Tubuhnya yang telah melemah akibat komplikasi sisa-luka pertempuran dan stres akibat perjalanan jauh tidak mampu bertahan.
Pada tanggal 28 November 1949, Simon mengembuskan napas terakhirnya. Berita kematian Simon memicu gelombang duka cita mendalam di seluruh Britania Raya. Ratusan pelaut, perwira tinggi Angkatan Laut Kerajaan, dan masyarakat sipil menghadiri upacara pemakamannya yang dilakukan dengan penghormatan militer penuh.
Jasad Simon dimakamkan di PDSA Ilford Animal Cemetery di London Timur. Peti jenazahnya dibungkus dengan bendera Union Jack kebanggaan Inggris, dan sebuah batu nisan megah didirikan di atas makamnya dengan ukiran kalimat yang akan terus mengenang namanya sepanjang masa:
“Sepanjang hidupnya, dia selalu memberikan yang terbaik bagi tugas dan negaranya.”
🛡 Pemberitahuan Hak Cipta & Kepatuhan DMCA
- Sumber Informasi: Artikel naratif dalam rubrik Kisah Inspiratif Sejarah Militer Dunia ini disusun secara independen berdasarkan rangkuman berkas arsip resmi dari Imperial War Museum (IWM) London, dokumen catatan harian log kapal HMS Amethyst 1949, serta literatur catatan dokumenter sejarah resmi kepahlawanan hewan “The Animal Victoria Cross: The Story of the Dickin Medal“ yang valid. Konten ini ditujukan murni sebagai sarana edukasi literasi, sejarah dunia, dan motivasi bagi pembaca blog.
- Kebijakan Media Visual: Hak cipta penuh atas foto dokumentasi asli Able Seacat Simon mengenakan kalung kepangkatan militer, rekaman cuplikan arsip pasca-Insiden Sungai Yangtze 1949, maupun materi grafis piagam penghargaan Dickin Medal dari PDSA dipegang sepenuhnya oleh pemilik lisensi resmi, lembaga arsip negara Imperial War Museum Inggris bersangkutan, atau pihak penerbit buku terkait. Keberadaan gambar di situs katakita.site berfungsi sebagai media pelengkap edukasi teks ulasan.
- Kepatuhan DMCA: Kami di katakita.site berkomitmen penuh untuk menghormati Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) pihak lain. Jika Anda adalah pemilik sah dari aset visual di halaman ini dan merasa keberatan dengan penayangannya, silakan layangkan laporan resmi melalui menu Contact Us. Tim administrasi kami akan segera memproses pencopotan materi visual (Take-Down) dalam kurun waktu maksimal 1×24 jam setelah laporan divalidasi melalui verifikasi admin.

