Di tengah kekejaman Perang Dunia II, sebuah kamp konsentrasi bernama Auschwitz menjadi saksi bisu dari salah satu kisah kemanusiaan paling murni dalam sejarah. Di tempat di mana harapan seolah mati, hidup seorang pemuda bernama Lale Sokolov. Tugasnya sangat berat dan menyiksa batin: ia dipaksa menjadi Tattooist (pembuat tato nomor tahanan) pada lengan setiap orang yang dibawa ke kamp tersebut.
Setiap hari, Lale harus menunduk, memegang tangan-tangan yang gemetar, dan mengukir nomor dengan tinta hitam. Ia selalu merasa bersalah karena menganggap dirinya ikut andil dalam penderitaan sesama tahanan. Pikirannya dipenuhi keputusasaan.
Namun, segalanya berubah pada bulan Juli 1942.
Hari itu, sebuah tangan wanita muda yang gemetar berada di genggamannya. Saat Lale mendongak untuk melihat wajahnya, ia menatap mata seorang gadis bernama Gita Furman. Di tengah lingkungan yang penuh dengan kebencian dan kematian, Lale justru merasakan percikan energi positif yang luar biasa. Detik itu juga, ia berjanji pada dirinya sendiri: “Aku harus bertahan hidup dari tempat ini, dan aku harus memastikan gadis ini juga selamat.”
Lale mulai menggunakan posisi kecilnya untuk membantu orang lain. Ia menukarkan cincin dan perhiasan selundupan dari tahanan yang meninggal dengan makanan dan obat-obatan dari pekerja lokal. Setiap malam, dengan risiko dihukum mati jika ketahuan, Lale menyelundupkan makanan tersebut ke barak Gita dan tahanan lain yang kelaparan.
Ia tidak hanya membagikan roti, tetapi juga membagikan kata-kata penguat. Ia selalu berbisik kepada Gita, “Jika kita bisa bangun besok pagi, berarti kita selangkah lebih dekat dengan kebebasan. Tetaplah tersenyum.” Pikiran positif dan fokus pada cinta inilah yang membuat jiwa mereka tetap hidup ketika tubuh mereka disiksa.
Saat perang berakhir dan kamp tersebut dibebaskan, mereka sempat terpisah karena kekacauan evakuasi. Namun, kekuatan harapan membawa Lale melakukan perjalanan panjang melintasi Eropa Timur hanya untuk mencari Gita. Mukjizat pun terjadi, mereka bertemu kembali di sebuah stasiun kereta di Bratislava. Mereka kemudian menikah dan hidup bahagia hingga hari tua.

Pria di dalam cerita itu bernama asli Ludwig “Lale” Sokolov (lahir dengan nama Eisenberg) dan gadis yang dicintainya bernama Gisela “Gita” Fuhrmannova. Mereka berdua benar-benar tahanan asli di kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau selama Perang Dunia II.
Kisah luar biasa mereka berdua ini dicatat secara resmi berdasarkan wawancara langsung dengan Lale di masa tuanya, lalu ditulis menjadi novel biografi terlaris di dunia berjudul “The Tattooist of Auschwitz” oleh penulis Heather Morris, yang sekarang bahkan sudah diangkat menjadi serial film.

