Tepat sebelum Perang Dunia II meletus pada tahun 1938, seorang pialang saham muda asal London bernama Nicholas Winton membatalkan rencana liburan musim dinginnya ke Swiss. Ia memilih pergi ke Praha, Cekoslowakia, setelah mendengar kabar tentang kamp-kamp pengungsian yang dipenuhi keluarga-keluarga yang ketakutan.

Saat tiba di sana, Nicholas melihat pemandangan yang menyayat hati: ribuan anak-anak hidup dalam kondisi memprihatinkan tanpa kepastian masa depan. Alih-alih merasa tidak berdaya dan pulang, Nicholas justru membuat keputusan berani yang mengubah sejarah.

Dari sebuah meja kecil di kamarnya, ia mulai menyusun rencana penyelamatan rahasia yang dikenal sebagai Kindertransport. Nicholas bekerja siang malam memalsukan dokumen, mengurus izin imigrasi, hingga mengumpulkan dana untuk menyewa kereta api guna membawa anak-anak tersebut keluar dari daerah bahaya menuju Inggris.

Banyak orang menyebut usahanya mustahil dan sia-sia karena birokrasi yang sangat rumit. Namun, dengan pikiran yang fokus pada solusi positif, ia terus melangkah. Berkat ketulusannya, Nicholas berhasil menyewa 8 gelombang kereta api dan menyelamatkan 669 anak-anak sebelum perbatasan benar-benar ditutup oleh perang.

Luar biasanya, setelah perang berakhir, Nicholas tidak pernah menyombongkan aksi heroiknya tersebut kepada siapa pun, bahkan kepada istrinya sendiri. Ia menyimpan semua dokumen dan foto anak-anak itu dengan rapi di dalam sebuah koper tua di loteng rumahnya selama hampir 50 tahun.

Kisah ini baru terbongkar secara tidak sengaja oleh istrinya pada tahun 1988. Nicholas Winton mengajarkan kepada dunia bahwa sebuah kepribadian yang positif tidak membutuhkan tepuk tangan penonton, melainkan hanya butuh ketulusan hati untuk melakukan hal yang benar.

Pria di dalam cerita itu bernama asli Sir Nicholas George Winton. Dia adalah seorang pahlawan kemanusiaan asal Inggris yang sering dijuluki sebagai “British Schindler” (Schindler dari Inggris) karena aksi penyelamatan heroiknya tersebut.

Anak-anak yang berhasil diselamatkan dari kekejaman Nazi itu kini dikenal dunia dengan sebutan “Winton’s Children” (Anak-Anak Winton). Luar biasanya lagi, dari 669 anak yang diselamatkan, saat ini keturunan mereka diperkirakan sudah mencapai lebih dari 6.000 orang di seluruh dunia.

Kisah nyata ini bahkan sudah diangkat menjadi film biografi layar lebar yang sangat menyentuh pada tahun 2023 kemarin berjudul “One Life”, yang dibintangi oleh aktor legendaris Anthony Hopkins.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *